Kamis, 28 Agustus 2008

gelap. sempit. pengap.

Kau mengambil ruang emosiku.
Menghabiskan setiap celah dan waktunya.
Menghisap setiap partikel udaranya.


gelap. sempit. pengap.


Terkulai memagut sisa-sisa hatiku yang lebur terserak.
Sunyi adalah maut.
Dan aku mati lemas didalamnya.




dibawahgarisekuator, agustus2008
meracau gara-gara In Between Days - The Cure

Maaf, saya belum beruntung!

Pria. Umm.. Sebut saja lelaki atau apa saja.

Seorang kawan berkata kepada saya, "Lelaki itu brengsek! Mulut manis doang! Kalau udah dapet apa maunya atau udah bosan dia main ninggalin aja semaunya.."

Atau kawan saya yang bilang seperti ini, "Naluri laki-laki itu gak pernah puas ama satu perempuan..."


Hmm...


Tak ada pembelaan dari saya. Ya.. tak ada.


Meskipun saya juga laki-laki.


Tapi...


Tak pula sebuah pembenaran keluar dari mulut saya.


Saya hanya berujar sayup, "Maaf.. anda belum beruntung!"


Sama tidak beruntungnya dengan saya tepatnya.


Hanya bisa menyimpan kalimat-kalimat sakti yang sudah berkarat di otak.


Mau tau kalimat sakti dari saya?


Sebenarnya tidak sakti-sakti amat, tapi setidaknya si buta dari goa hantu harus mengakui bahwa saya lebih sakti sedikit untuk urusan beginian.





Perempuan, aku bukan laki-laki yang terbiasa mengucapkan "I Love you" dan juga tidak cukup fasih mengucapkan "Aku cinta kamu". Tapi aku lebih lebih nyaman saat mengatakan, "Pasang sweatermu di kala hujan..."

Perempuan, sungguh aku tak berniat menjadi Jaka Tarub yang pencuri. Meskipun itu adalah mencuri hatimu. Sungguh tak terlintas di benak. Justru aku lebih rela menjadi preman kelas pasar untuk menjaga hatimu. Ya.. menjagamu, menjaga hatimu. Hmm.. Tak suka dengan premanisme? Baiklah, aku menjadi pakaianmu saja. Yang melindungimu dari terik dan kuyup. Itu saja cukup.

Perempuan, jangan pernah menduga aku adalah seorang Clark Kent atau sejenisnya. Yang menyembunyikan sesuatu. Seorang pengecut bertotot baja. Sungguh aku bukan siapa-siapa. Hanya saja aku berani berkata, "Ini aku. Tak ada apa-apa dibelakangku. Tak ada baju ketat biru merah bersayap dibalik pakaianku. Yang ada hanya segumpal darah dibalik kulit yang kuisi dengan namamu.."

Perempuan, maaf aku berbohong. Aku berbohong pada semua perempuan yang pernah kutemui sebelumnya. Aku mengatakan kalimat yang sama yang kuucapkan padamu kepada mereka. Tapi aku tak bisa menjaga mereka. Tak bisa menjadi pakaian mereka. Tak bisa menahan lunturnya nama mereka dari penampang hatiku. Apakah kau percaya bahwa kali ini aku tak bohong bahwasanya dulu aku pernah berbohong?





Ah...

Hanya menyimpan kalimat-kalimat sakti yang sudah berkarat di otak.


Maaf, saya belum beruntung!





dibawahgarisekuator, agustus akhir 2008.
Hanya menyimpan kalimat-kalimat sakti yang sudah berkarat di otak.

Selasa, 26 Agustus 2008

Message From Heaven

MESSAGE FROM HEAVEN
Best Served with Elora.mp3 (Pure Saturday)


Tididit... didit.... tididit....

“Aku ingin mengecap sepenggal surga…”
From: +628875001954

“SMS dari siapa neh? Mana tengah malem lagi ngirimnya. Gak penting amat...” aku terbangun dari nyenyak tidur setelah bunyi monophonic Hp tua menggerus telingaku.

“Aku ingin mengecap sepenggal surga…”
“Aku ingin mengecap sepenggal surga…”
“Aku ingin mengecap sepenggal surga…”

Sekarang sudah pukul 12 dini hari. Aku masih saja terngiang-ngiang potongan kalimat dari sms itu.

”Siapa neh?”

Begitu kalimat balasan yang ku kirimkan.

Message status: Pending.

”Sialan!” gerutuku.

Rasa penasaranku makin menjadi. Aku putuskan untuk memencet tombol hijau di telepon genggam ku.

Call.

Melantun sebuah suara perempuan. Merdu.

”Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Silakan hubungi beberapa saat lagi.”

”Setan!!” umpatku.

***************************

Aku masih saja didekap rasa penasaran. Diselimuti rasa ingin tahu yang sangat. Berpikir dan berpikir mencari jawaban. Jawaban atas pertanyaanku sendiri. Hingga tanpa terasa suara Bang Mamad, sang merbot masjid merdu mengumandangkan adzan subuh. Aku tersadar dari rasa penasaran yang menggerogoti kesadaranku.

”Akh, pagi ini. Pagi ini! Ba’da Subuh! Akan kucari!” begitu gumamku.

*****************************



Aku berjalan.
Terus berjalan.
Menjelajahi jarak.
Mengitari sekujur kota.
Mencari jawaban.
Mengais tanya.
Menguak rahasia.

*****************************



Sudah sore. Pukul 6 lebih. Tak kudengar suara merbot memanggil.
Huh! Tentu saja! Aku sekarang tepat berada di depan sebuah mal.
”Sudahlah. Shalat di basement aja.” Aku hanya menduga mal itu menyediakan tempat shalat di basement. Maklumlah, tempat ibadah di negeri kita dianggap tidak lebih penting dari toilet. Pengap, sempit, lembab, kotor dan berbau tak sedap adalah atribut yang dianggap lumrah melekat di mushalla mal. Bahkan toilet mal lebih wangi, bersih dan memakai interior yang ekstra wah untuk sekedar tempat buang kotoran. Damn!

Aku masih di basement mal tua itu.
Menyilangkan kaki.
Menyandarkan bokong tipisku ke semen tak rata di pinggir basement di slot parkir kosong yang terjepit dua mobil mewah.
Menyundut sebatang rokok.
Meniupkan asapnya semauku.
Menerbangkan beberapa detik usiaku di tiap hembusannya.
Aku bergumam dalam dada, ”Dimana jawaban itu?”.
Aku mengatupkan kedua kelopak mata sipitku.
Menerawang jauh.
Lalu...

Arrrgghhhhhhhhh.....

Aku mengerang menahan sakit.
Sepatu kanvas bolongku terlindas sebuah ban mobil yang merangsek cepat ke slot kosong parkiran.
Mobil itu berhenti tepat diatas kaki kiriku. Tak bergerak. Tak ada tanda-tanda mobil itu akan mundur melepaskan gigitannya di atas kaki kecilku.
Aku terus menjerit.
Lagi dan lagi.
Tak ada respon.
”Aggrrhhh!!!!!!!! Anjisss!! Mundurin!!” aku memukul keras kap depan samping kiri mobil itu.

”Kenapa mas?” tanya sebuah wajah dan suara tipis tanpa rasa bersalah dari seorang gadis yang baru turun dari mobil hitam penggilas kakiku itu.

Matanya luar biasa indah. Tapi sorotnya menyimpan sejuta rahasia. Kutaksir usia pemilik mata indah itu tak lebih dari 20 tahun.

”Kakiku kejepit ban mobil kamu! Mundurin! Sakit tau!” Pekikku.

“Oh, sori, sori banget…. Gak ngeliat..” raut mukanya berubah panik setelah sentakanku. Kemudian berlari kecil lalu menyalakan mesin mobilnya yang nyaris tanpa suara.

Mobil terkutuk itu pun bergerak.
Ahh.. Lega. Merdeka.

Sang gadis kemudian bergegas turun dari mobil hitamnya dan menuju ke arah ku yang sedang mengelus-elus kaki kesayanganku.

”Mas sekali lagi maaf ya mas tadi Syifa buru-buru banget sampe gak ngeliat mas duduk disana tapi mas gak papa kan?” kalimatnya penuh kepanikan. Tanpa titik koma dia bicara.

”Hhhmmm... Syifa. Syifa. Sang penyembuh bagi jiwa yang terbaring dalam kegersangan makna. Nama yang bagus!” gumamku dalam hati. Tak lagi dapat kucerna pertanyaan darinya. Sepersekian detik aku hilang.

”Mas.. mas..” tangan kecilnya menggoyang bawah sadarku.

“ooh… iya.. gak.. gak papa kok..” jawabku terbata.

”Beneran mas?” ucapannya menyiratkan keraguan pada jawabanku.

”Beneran...”

”Sekali lagi sori mas ya.. ini kejadian sial yang kedua buat hari ini...” lirihnya

Aku memandang sisi kiri mobilnya. Baret panjang melintang. Dekok disana-sini. Gadis ceroboh rupanya.

”Ya udah, hati-hati ya neng.. Aku pulang duluan..” aku berujar sambil bergerak menjauh.

”Ya udah.. tapi ngomong-ngomong mas pulangnya kemana?”selidiknya

“Deket kok, Cimahi.”

“Cimahi? Jauh kali... tapi naek mobil kan?”

”Iya.” ucapku datar. Aku pun melangkah menjauh. Menuju pintu kaca.

Langkahku terhenti sebuah panggilan.

”Hey mas... hei...”

Gadis itu lagi. Aku memutar badanku.

”Ada apa neng?”

”Loh, katanya pulang? tanyanya heran.

”Iya. Aku emang mau pulang.”

”Tapi kok malah masuk lagi ke dalam? Katanya naik mobil, emang parkir dimana? Gak parkir disini ya?”

”Iya. Dari sini jalan kaki dulu simpang Pasteur, trus dari sana baru naik mobil. ”

”Hah?” dia terheran.

”Loh? Memangnya angkot bukan mobil?” balasku.

”Gak, kirain naik mobil sendiri. Tapi... jalan kaki ke pasteur?” nadanya kembali heran.

Aku mengangguk.

”Serius?”

”Hahahaha... emangnya kenapa neng?” aku seakan menertawakan kemanjaan anak muda sekarang yang menganggap jarak adalah musuh.

”Itu kan jauh mas... Kenapa gak naik angkot aja?”

”Ah.. udah biasa kok... lagian…” belum selesai kalimatku tiba-tiba suara aneh muncul.

Perutku bersiul.
Keras.
Kosong.
Tak ku isi sejak kemarin malam.
Entah kenapa tak kurasa lapar.
Rasa penasaran menipu rasa lapar.
Perasaan dapat dibohongi.
Kekosongan tidak.

”Engg... mas belum makan ya?” suaranya pelan. Bermain di nada rendah.

“Udah biasa kok neng.. suara tadi anggap aja gak ada.”

”Yee... laper kok ditahan-tahan... Gini aja, sebelum mas pulang gimana kalo kita makan dulu, kebetulan Syifa juga belum makan. Gimana?”

Aku diam berpikir.

”Kok diem? Ya udah yuk, gak usah banyak mikir segala, Syifa yang traktir! Anggap aja ini permohonan maaf dari Syifa..” tangannya menarik lengan kanan jaketku.

***************



”Nama mas siapa ?”tanyanya padaku sambil menarik kursi di food court itu agar lebih mendekat ke tepian meja.

”Bima. Panggil aja Bima, jangan mas..” ucapku sambil menyodorkan tangan ke arahnya.

”Hhhmm... wayang, mahabaratha, ramayana, punakawan? Oh ya, aku Syifa. Terserah mau manggilnya gimana. Panggil neng juga gak apa-apa kok.. lagian udah lama gak denger panggilan ”neng” di jaman sekarang” balasnya dengan mengulurkan tangan setinggi meja di depan kami.

Aku menjabat tangannya. Sebenarnya aku agak terkejut juga mendengar penuturannya. Gadis kota kenal pewayangan dan punakawan? Cukup aneh!

”Neng tau juga tentang punakawan?” tanyaku penasaran padanya yang memilih duduk di sisi kananku.

”Syifa tuh campuran Jawa – Sunda. Mamah Syifa seneng banget nonton wayang golek di TV, jadi mau ga mau ya sedikit banyak tau lah…Diantara punakawan, Syifa paling suka ama Semar.” jawabnya di sela menghirup black coffee yang tadi dipesannya.

Kopi hitam lalu wayang. Aneh.

”Hhhmmm... Semar? Kenapa?” aku mengangguk penasaran.

”Abis lucu sih... kayak panda!” dia tersenyum.

“uugghhsshh…” aku tersedak. Jawabannya tidak semanis senyumnya.

“Kenapa Bim?”

“Gak.. gak papa..” aku menyembunyikan keterkejutanku. Sebuah persepsi aneh tentang Semar. Ini pertama kalinya aku mendengar Semar di persepsi dari ”keanehan” fisiknya. Yang sering kudengar tentang Semar adalah kebijakan dan kearifannya.

Setelah menghabiskan nasi goreng seharga lima belas ribuan itu ludahku terasa pahit.. Nikotin dalam tubuhku membuatku linglung. Menagih asap ke paru-paru.

“Disini gak boleh ngerokok ya neng?” tanyaku polos

”Gak! Dan kalo pun boleh Syifa pasti patah-patahin rokok kamu kalo berani ngerokok di hadapan Syifa!” emosinya meningkat.

”Oh.. sori.. udah kebiasaan... ya udah, aku masih bisa tahan kok...”

”Perokok itu egois! Dan Syifa paling sebel ama orang yang ngerokok, tau gak!” ucapnya dingin seolah sedang tidak berbicara dengan seorang perokok berat.

Aku diam.

”Oh iya Bim, ngomong-ngomong kamu kuliah dimana?”

Aku menggeleng.

“Oh.. udah kerja ya?”

“Enam jam yang lalu aku dipecat” kalimatku datar seraya memainkan sendok kecil didepanku.

“Kenapa?” ungkapnya penasaran dengan menatap mata sipitku.

”Hari ini adalah kali ketiga aku tidak masuk kerja tanpa izin”

”Memangnya kenapa kamu gak masuk kerja? Lagian apa susahnya sih minta izin gak masuk kerja?” dia bertanya seakan menyepelekan semua alasanku.

”Masalahnya tidak sesederhana itu neng... Hanya saja ada yang jauh lebih berharga dari sekedar uang” jawabku.

”Sepertinya ada yang sok idealis ya disini...” intonasinya bercampur antara ledekan dan canda.

”Hahahha.... gak juga kok... bahkan aku tidak tau apa dan bagaimana idealisme itu.”

”Maksud kamu Bim?”

”Aku sendiri masih mencari. Mencari sesuatu yang lebih berharga dari uang..”

”Harga diri mungkin?” ucapnya spontan.

”Mungkin.. aku juga gak tau... aku bahkan juga mencari apa yang berharga dari diriku..”

”Gak tau ah, pusing ngomong ama kamu Bim... Belibet! Gak rame ah..”

“Hahhaha….” aku tertawa lepas.

”Tadi kamu ngapain di basement Bim?”

”Tadi shalat maghrib dulu.. Pasti tadinya neng mikir aku naik mobil sendiri karena aku di parkiran mobil itu ya?” tebakku.

”Hehhe....” balasnya dengan tawa dan senyumnya.

Jujur saja, sebuah peristiwa langka yang aku hadapi sekarang. Aku melihat senyuman yang paling manis yang pernah aku lihat. Sungguh, aku tak bohong. Senyumnya menutupi keinginanku untuk membongkar sejuta rahasia yang tersimpan di mata indahnya.

”Neng masih kuliah ya?”

Dia mengangguk.

”Baru semenster 4 sih... Ngambil hukum. Capek! Syifa gak sebenernya ogah masuk hukum... tapi ayah maksa... ya udah...”

”Capek gimana maksudnya neng?”

”Capek kuliahnya, capek masa depannya juga! Liat aja berapa banyak Sarjana Hukum di Indonesia, tapi hukum Indonesia juga gak pernah bener jalannya..”
Aku hanya tersenyum kecut mendengar keluhnya.

”Gak tau ah, pusing mikirin Indonesia mah...” keluhnya.sembari menghela nafas.

“Hahahhaha…..” aku terbahak.

“Hush! Ketawanya meni gitu banget!”

Aku menurunkan volume tawaku.

”Coba neng perhatikan bagaimana Soekarno tersungkur, bagaimana Soeharto terguling, bagaimana Troya hancur, bagaimana Iblis terusir, bagaimana Soviet lebur, bagaimana Islam pernah dan masih terserak... “

“Maksud kamu Bim?”

”Bicara tentang Indonesia, yang aku khawatirkan bukanlah bagaimana Indonesia yang saat ini dicekik oleh tangan imperialisme berkuku modernisasi, bukan bagaimana Indonesia yang cuma jadi propinsinya Singapura, yang cuma jadi boneka kelincinya Amerika, yang cuma jadi bahan bercandanya malaysia... Tapi bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia yang hancur oleh ketamakan bangsa kita sendiri yang menjual harga diri bangsa, menjual harga diri sebagai manusia yang bermartabat, yang menyerah kepada segenggam nafsu, yang merakit tangga menuju gelapnya neraka...”

Aku diam. Menunggu respon dari gadis ber-sweater krem lawan bicaraku ini.
Sesaat sebelum bibirnya tipisnya hendak mengeluarkan kata, aku sigap memotong,


“Lembaran sejarah kehancuran telah ditorehkan dengan tinta hitam berkilau. Kehancuran bukan berasal dari luar. Tapi dari dalam. Faktor luar seringkali hanya menjadi trigger dari kehancuran, tapi bukan penyebab kehancuran itu sendiri.”

Syifa menatapku tajam.

”Kamu dulu kuliah dimana Bim?”

“Hahahaha….” Aku terbahak.

”Ditanya kok malah ketawa sih?”

”Jujur aja, pikiran neng tuh terlalu klise.. “

“Terlalu klise bagaimana?”

“Neng terlalu hitam putih memandang dunia. Neng menganggap pembicaraan ini hanya milik orang kuliahan atau paling tidak pernah mengecap bangku kuliah. Ya kan?”

Dia terdiam.

”Seakan-akan orang macam aku ini tidak boleh bicara tentang politik, tidak boleh bicara tentang hukum, tidak boleh bicara tentang ekonomi, tidak boleh bicara tentang agama... Pembicaraan orang-orang macam aku ini seperti tidak boleh keluar dari kandang keluhan hidup atau kekerasan hidup...”

”Bukan... bukan begitu maksud Syifa...” air mukanya berubah. Pucat.

Aku diam sejenak.

”Hahhaha.... santai aja atuh neng... aku cuma becanda kok....”

”Iihhh... Kamu jahat banget tau!! Syifa ampe deg-degan kalo kamu ngadat beneran...” suaranya manja.

”Haahhaha... eh, tadi sepertinya neng buru-buru banget. Ngejar sesuatu ya?”

”Iya, tadi Syifa janjian ama anak-anak mau nonton I Am Legend-nya Will Smith yang jam 7. Tapi ya itu, di jalan nabrak mobil trus nabrak kamu, jadi aja telat…” keluhnya.

”Hahahaha...” aku menertawakan kecerobohannya.

”Yee... orang lagi susah diketawain!”

”Will Smith ya? Hhhmm.. aku suka aktingnya di Hitch, Ali, sama Pursuit of Happiness..”

“Kamu tau juga tentang film… emang di Cimahi ada bioskop?” candanya.

”Hahahha... ”

Kami tertawa lepas.
Seperti sahabat lama yang tak bertemu sekian waktu.
Melupakan kesialan.
Melupakan pemecatan.
Meski aku masih mengejar sesuatu.
Aku pencuri.
Aku mencuri
Aku mencuri waktu.
Mencuri beberapa detik dari waktu.
Mencuri menit dari detik.
Mencuri pandangan.
Memandang wajahnya.
Menatap matanya.
Menikmati gerak bibirnya.
Lalu mengalihkan sorotku pada meja sesaat sebelum dia menyadari pencurian itu.

”Aku pernah jualan DVD bajakan di Alun-alun. Jadi tau dikitlah tentang film..” kalimatku memecah diam yang sempat singgah.

”Oya? Pantes... ” balasnya seraya mengangguk tinggi tapi pelan.

”Pasti nanya lagi deh kenapa aku berhenti jualan disana. Ya kan?”

”Hehhehe..”

Lagi. Dia tersenyum. Damn!

Aku menyibak rambut yang menutup dahi sebelah kiriku dan berkata, ”Ini bekas pukulan Polisi Pamong yang pernah merazia dulu...”

”Iihhh... Kejam banget..” tutur Syifa meringis setelah menyentuh bekas luka sepanjang sepuluh senti itu.

”Bekas luka yang neng liat sekarang masih belum apa-apa. Punggungku pernah ditusuk 3 tusukan sama preman disana. Perutku menyimpan bekas luka yang lebih parah dari ini... Rasanya konyol jika aku tetap bersikukuh mengais rupiah disana. Kehidupan terlalu keras disana...”

”Udah, udah ah! Ngeri dengernya juga... ” balasnya sambil menutup telinga.

”Sori.. sori...” kataku.

”Eh Bim, tadi kan kamu bilang kehancuran bukan dari luar, tapi dari dalam.. ya kan?”

”Kata siapa? Perasaan gak ada deh...” jawabku dengan intonasi penuh canda

”iiihhh kamu mah... serius neh!!!!”

“Hehhehe… iya.. iya .. sok atuh terusin…”

“Sekarang kan lagi musim tuh orang patah hati yang bunuh diri atau lari ke drugs… Nah, patah hati itu kan faktor luar Bim?”

”Bukan! Itu bukan faktor luar. Sekali lagi aku bilang, itu cuma trigger-nya aja. Patah hati cuman jadi pemicu, bukan penyebab. Aku pesenin ke kamu neng, jangan pernah takut patah hati, tapi takutlah pada diri kita sendiri saat kita gak bisa me-manage hati, gak bisa memfotosintesis sakit hati itu menjadi hikmah...”

Aku mengalihkan pandanganku yang beradu dengan sorotnya. Aku menatap bagaimana rambutnya jatuh ke atas dahinya yang dihuni sebutir jerawat kecil.

”Sempurna!” ujarku dalam benak.

”Hhhmmm.... kamu buru-buru gak pulangnya Bim?” kalimatnya memecah diam yang sempat menyinggahi meja kami.

”Memangnya kenapa?”

”Gimana kalo kita nonton yang jam 9 aja?”

“Maksud neng?”

“Jangan pura-pura bloon deh, Syifa ngajak kamu nonton!”

Aku bingung. Jaman sudah terlalu banyak berubah. Sedang aku terlalu lamban untuk mengikuti derasnya putaran perubahan itu. Perempuan sudah tak lagi segan, tak lagi canggung, agresif.

”Terserah.. tapi uangku cuma ada sebelas ribu lagi. Itu pun buat ongkos pulang sama buat modal keliling nyari kerjaan buat besok..”

“Syifa paling sebel deh kalo cowo ngomong terserah-terserah segala. Mau ya mau, gak ya gak. Jangan pake terserah-terserah. Kayak banci tau gak! Jadi cowo harus tegas dong! Urusan duit gak usah dipikirin, Syifa yang bayarin kok!” jawabnya keras.

Hhhmm… gadis aneh.

“Ya udah… tapi…” kalimatku yang belum selesai terpotong.

“Tapi apalagi? Udah deh, jangan banyak tapi-tapian… Ntar Syifa anterin sampe ke Pasteur!!” kalimatnya memaksa.

“Bukan gitu… aku gak enak aja ama neng… Neng terlalu baek… apa neng gak curiga atau takut sama aku yang baru aja neng kenal?”

”Gak tau... Syifa juga gak tau kenapa bisa gitu aja percaya... Yang jelas semua peristiwa pasti ada alasannya kenapa semua bisa terjadi.. Yang jelas ini juga pertama kali terjadi ama Syifa, ngajak cowo duluan buat nonton. Bukannya sombong, tapi biasanya cowo-cowo yang ngantri ngajakin Syifa nonton. Jadi jangan beranggapan kalo Syifa itu cewe murahan ya! Awas lo! Atau anggap aja ini ngelengkapin hari yang paling aneh yang pernah Syifa alamin...”

Aku diam.
Lalu mencuri lagi.
Mencuri sepercik cahaya dari sepasang mata.

**********************



Ini pertama kalinya aku berada di ruang ber-AC berkursi merah ini. Ini adalah kali pertama aku nonton film di bioskop. Aku merasa sangat konyol sewaktu tangan Syifa memegang erat pergelangan tanganku yang menuntunku menuju kursi no 15A. Tampak kampungan sekali. Aku seperti bukan lelaki saja yang seharusnya menggandeng tangan, bukan yang digandeng.

Hampir satu jam berlalu. Bercak tanda rol film berganti sudah muncul. Aku menoleh ke samping kananku.
Aku melihat bagaimana rambutnya jatuh di dahinya.
Aku melihat bagaimana bibir mungilnya menggigit jarinya.
Aku bahkan tak peduli lagi bagaimana Will Smith berteriak sendirian di tengah kota New York.
Aku bahkan tak peduli lagi manusia yang terinfeksi virus itu berhamburan memburu Will Smith.
Aku hanya memperhatikan gadis di samping kananku.
Aku hanya menikmati suguhan terindah yang pernah menyapa pandanganku.
Aku hanya memandangi keindahan itu sebisa mungkin.
Ya, selama satu jam terakhir itu aku hanya menyaksikan pertunjukan keindahan yang paling nyata yang pernah kualami.

**************



Sekarang aku berada di dalam mobil hitam berplat 2 nomer.

”Jam berapa sekrang neng?” tanyaku.

”Setengah dua belas lewat. Mau langsung pulang Bim?”

”Ya iya atuh neng, udah kemaleman. Takut gak kebagian angkot”

”Ya udah. By the way, filmnya tadi lumayan asyik juga yah? Tapi sedih banget pas anjingnya mati tuh..”

”Iya...” kalimatku pendek.

”Jangan pura-pura ngerti deh Bim...”

”Maksudnya apa nih neng?” aku kebingungan.

”Sekarang jangan pura-pura gak ngerti deh... Emangnya Syifa gak tau kalo kamu gak merhatiin filmnya? Kamu cuma melototin Syifa doang kan?” dengan dinginnya dia bicara.

Aku terdiam.
Gagu.
Membisu.

”Sori” ucapku pelan.

”Maaf atas apa Bim?”

Aku tercekat.
Lidahku terbelenggu.
Bibirku terpaku.

”Kenapa diem?”

”Aku cuma kehabisan kata buat ngelukis keanehan hari ini. Gak ada kalimat yang bisa ngegambarin apa yang aku alamin sepanjang hari ini.”

Kami membisu bersama. Tak ada kata ataupun kalimat yang keluar dari mulut kami. Kami menikmati kebisuan ini. Kami menyatu dalam diam.

Syifa lalu memencet beberapa tombol di tape deck-nya. Sepertinya aku kenal dengan lagu yang keluar dari speaker mobil ini. Ya, Elora! Pure Saturday.


”Stopnya di depan warung itu aja neng..” ujarku seraya menunjuk warung Mang Entus Pasteur.

Tepat di depan warung, aku membuka pintu mobil hitam.
“Makasih ya neng… hati-hati di jalan…”

”Oh ya, kamu punya HP gak Bim?”

”Ada”

”Berapa?”

”085220428499”

”Syifa miss call ya...” dia tersenyum ke arahku.

Telepon genggamku bergetar di saku jaketku.

”Ya, udah masuk neng..”

”Nice to know you Bim... Bye..” ucapnya dengan senyum dan lambaian kecil.

Aku menutup pintu mobil hitam.
Lalu membalikkan badan.
Menyebrang jalan.
Menyundut rokok.
Menghisapnya dalam.
Menghembusnya kencang.
Kemudian tersenyum.

”Aku temukan jawabannya!!!!” teriakku dalam hati.

Aku mengambil HP bututku dari saku kiri jaketku. Menyimpan miss call dari Syifa. Kemudian aku membuka layar kosong dari menu pesan baru. Aku ketikkan beberapa kata;

”Aku telah mengecap sepenggal surga. Aku meluangkan waktu bersama surga.”

Aku lantas bertanya dalam hati, ”Di kirim kemana ya?” Aku dihinggapi kebingungan.

”Oh ya, kirimkan saja ke sembarang nomer. Peduli amat salah sambung. Toh, gak kenal ini... Lagian gara-gara sms salah sambung itu juga yang membawa aku kesini..” ocehku sendiri.

Aku pencet sembarang nomer. Sembarang deretan angka-angka yang begitu muncul di kepala langsung aku torehkan di tombol HP.

Send to: +628156078855
Status: Message Sent

Sip!

Tiba-tiba aku melihat cahaya dari arah barat.
Seberkas sinar yang bergerak berlari kencang ke arahku.

Lalu...
Lalu tubuhku terlempar ke udara.
Ragaku terpelanting mengawang.
Sakit itu hanya sepersekian detik kurasa.
Lalu hilang.

Lalu..
Lalu aku melihat jasadku yang bercerai dengan ruhku.
Aku terbang melayang.
Berlalu bersama angin dari selatan Cimahi.

............
............
...........

*Somewhere in the same time*

Tididit... didit.... tididit....

”Aku telah mengecap sepenggal surga. Aku meluangkan waktu bersama surga.”
From: +6285220428499

“SMS dari siapa neh? Mana tengah malem lagi ngirimnya. Gak penting amat...”
................
................
...............






DibawahGarisEkuator,
Waiting A Message From Heaven....

I Choose The Second

Berusaha dulu sekuat tenaga untuk mencapai keinginan kita lalu menyerahkannya pada Yang Kuasa ataukah menyerahkannya dulu pada Yang Kuasa baru kita berusaha sekuat tenaga?

Hmm...

I choose the second.





dibawahgarisekuator, agustus 2008
sedang sok tau...